CATATAN RENUNGAN 18 TAHUN SPS FBS UNIMA
Oleh: ISWAN SUAL
Kampus Ungu, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) adalah salah satu dari banyak kepingan kenangan yang barangkali takkan lekang oleh zaman. Baik kenangan penuh warna maupun yang menyisakan trauma. Ruang kelas yang pengap, toilet yang jorok, birokrasi yang amburadul, akademisi yang tak produktif, dan segala macam tetek bengek lainnya. Tentu saja ada pula sejumput kelebihan dan pencapaian. Namun, itu tak seberapa. Tak sesuai dengan harapan ideal bahwa seharusnya lembaga pendidikan itu menjadi pusat dari sebuah kebudayaan.
Agamaku waktu itu adalah idealisme. Nabi-nabinya ialah penulis tersohor, tokoh-tokoh intelektual dan senior-senior yang bergaya nyentrik, yang sanggup berbicara panjang-lebar sampai subuh dalam diskusi-diskusi yang berat. Semakin sulit dimengerti akan dianggap semakin berbobot. Kitab Sucinya adalah buku-buku perpustakaan atau pinjaman dari teman, atau mungkin juga curian.
Kegelisahan dan kemarahan pada kondisi kampus kala itu membuatku sering melontarkan kritik, baik itu kepada dosen dan sesama mahasiswa yang sama-sama tak becus. Juga kepada diriku sendiri yang juga kadang munafik dan penakut dengan kenyataan semrawut di depan mata. Kendati demikian, tak bisa dipungkiri, kala itu ada pula beberapa dosen galak di kelas, tetapi asyik jikalau diajak berdiskusi di kantin, bahkan mau dikritik dan mentraktir kami. Yang barangkali ada yang telah seminggu berhutang di kantin kampus.
Antara kritik dan otokritik, kupikir harus seimbang. Maka, aku berusaha hadir di setiap kelas tanpa absen. Kutunjukkan kepada pimpinan kampus bahwa kesibukan di organisasi-organisasi sama sekali tak mengganggu perkuliahan. Berbagai kegiatan kami gelar. Kami berpikir keras bagaimana menutup kekurangan almamater. Tidak hanya melempar cibiran kosong.
Nyaris di semua lembaga dan unit kegiatan mahasiswa, intra dan ekstra, cipayung dan paguyuban, aku hadir. Untuk belajar dan berbagi insight. Menjadi kader dan mengkaderisasi. Ikut serta dalam lomba karya tulis dan menyabet peringkat teratas Mahasiswa Berprestasi (Mawapres). Malahan, sempat menggagas berdirinya komunitas debat dan jurnalistik.
Student Press Society (SPS) adalah lembaga pers mahasiswa yang kami dirikan usai aku kembali dari Makassar. Inspirasi yang kutemukan tatkala sowan ke sekretariat lembaga pers mahasiswa dari salah satu fakultas di Universitas Negeri Makassar (UNM) saat tengah kegiatan Temu Mahasiswa Ilmu Budaya se-Indonesia.
Apin, Joli dan Nugs adalah tiga orang tempatku curhat persoalan-persoalan pelik, kegelisahan dan semangat juang saat itu. Mereka itu cocok dilabeli "partner in crime" yang setia, sama-sama pelumat buku. Kami rela menahan lapar seminggu agar ada uang lebih turun ke Kota Manado dan curi-curi baca buku di toko Gramedia tanpa harus membelinya.
Terkejut aku kemarin pada, Sabtu (27/9/25), saat sedang asyik ngobrol bareng para alumni dan para anggota di sekretariat SPS. Saat itu ketika lilin berangka 18 dinyalakan di atas kue kotak HUT. Kepadaku kue itu disodorkan. Saat itu pula aku teringat dengan burung puyuh di peternakan yang belum diberi pakan.
"Kak saja yang tiup lilinnya. Pas kak juga salah satu founding fathers-nya," pinta Marhaeny, selaku Pemimpin Redaksi (Pimred) SPS yang menjabat sekarang ini.
Aku gugup dan agak emosional. Apalagi diminta mengucapkan pidato refleksi 18 tahun berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berdiri semenjak tahun 2007 tersebut.
Tiba-tiba pikiranku kembali ke era waktu itu. Periode FBS UNIMA paska demonstrasi berbulan-bulan yang gagal. Nyaris tak membawa pengaruh signifikan. Namun momentum yang selalu dikenang seolah itu triumphant.
Pada delapan belas tahun lalu itu, kami nyaris gagal sebetulnya. Gagasan pendirian SPS ditolak policy maker bidang kemahasiswaan. Dengan alasan klasik "tak ada anggaran". Kami nyatakan dengan berani bahwa SPS tujuannya melampaui itu dan bisa mandiri. Tanpa harus menetek lagi kepada almamater terkasih.
Penguasa akhirnya setuju. Pengurus dilantik. Kerja-kerja jurnalistik pun dimulai. SPS menerbitkan koran dwimingguan. Jingga namanya. Koran mini yang meniru gaya koran lokal TOP saat itu.
Apa modal kami? Ada anggota-anggota mahasiswa semester satu yang antusias dan penuh komitmen. Ada laptop dari pacarnya Pemimpin Redaksi (Pimred) kala itu, Nugroho Lasabuda. Juga printer Canon seadanya milik BEM FBS UNIMA, kebetulan aku ketua di lembaga itu.
Dalam "pidato reflektif" 18 tahun SPS kemarin itu kuutarakan sejarah singkatnya. Juga kusentil siapa yang ada dalam struktur dan programnya. Juga siapa designer logonya.
Saya katakan, "Anggota SPS pasti tidak semua akan jadi wartawan. Tetapi, paling tidak, saat kita membaca berita di media mana pun, kita punya kemampuan untuk membedakan mana berita yang sesuai fakta dan mana yang hoaks."
Akhirnya, kuucapkan selamat hari jadi untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Student Press Society (SPS) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)!
Pakatuan wo' pakalowiren!
Viva SPS!
Viva Kampus Ungu, FBS Unima!
*
Terkait sejarah singkat SPS FBS UNIMA bisa dibaca disini: https://violetnews.wordpress.com/.../sejarah-sps-fbs-unima/
___
Penulis: Iswan Sual
Editor: Marhaeny Benedikta Tinggogoy
Komentar
Posting Komentar