Penulis: SENARES
Refleksi kritis atas potret muram FBS Unima dari segala sisi
Ada
masa ketika Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado adalah
taman yang penuh cahaya. Di sanalah kata dan nada bertemu dalam keindahan;
nalar dan nurani berdialog dalam kebebasan. Mahasiswa menulis dengan hati,
dosen berbicara dengan makna, dan kampus menjadi rumah yang hidup tempat di
mana ilmu pengetahuan tidak hanya diajarkan, tetapi dialami dan dirayakan.
Namun,
kini taman itu meranggas. Daun-daun intelektualitasnya kering, akar
kebudayaannya retak, dan air kehidupan ilmiahnya seolah berhenti mengalir. Yang
tersisa hanyalah bayangan kejayaan masa lalu; sebuah nostalgia yang pahit
tentang kampus yang pernah bermakna, tetapi kini kehilangan arah.
FBS
Unima hari ini bukan sekadar fakultas yang menua. Ia seperti kapal besar yang
kehilangan nakhoda dan kompas. Ia masih berlayar, tetapi tanpa tujuan. Ombak
birokrasi menamparnya dari segala arah, sementara awak kapal dosen, mahasiswa,
dan tenaga pendidik tampak lelah menjaga layar yang robek.
Fasilitas yang Tak Berkembang, Kampus yang Membeku dalam
Waktu
Berjalanlah
di halaman FBS, dan kau akan tahu mengapa banyak hati kini kecewa.
Gedung-gedung tua berdiri dengan dinding terkelupas yang hanya dipoles cat
baru, disesuaikan dengan warna kepemimpinan setiap tahun. Toilet yang macet dan
tak ada air; kotor dan menjijikkan. Rak perpustakaan kosong, sunyi, dengan buku-buku
tua yang tidak diperbarui. Laboratorium yang berdebu, tak ada penghuni, hanya
menjadi penghias akreditasi. Studio seni sama sekali tidak terdengar suara
gitar dan puisi, karena ruangan itu memang tidak ada.
Fasilitas
kampus yang mestinya menjadi jantung kehidupan akademik kini tak ubahnya fosil
pendidikan: menyimpan kenangan, bukan masa depan. Tak ada ruang belajar yang
benar-benar nyaman, tak ada laboratorium bahasa yang modern, tak ada studio
seni yang menginspirasi. Ironisnya, fakultas yang mengajarkan bahasa dan seni
justru kehilangan sentuhan estetika dan komunikasi dalam dirinya sendiri.
Sementara
kampus lain membangun ruang kolaborasi, studio digital, dan laboratorium riset
modern, FBS Unima tampak seperti menara usang yang tak pernah disentuh zaman.
Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ini persoalan kesadaran akademik.
Sebab kampus yang membiarkan ruang belajarnya rusak berarti kampus itu juga
membiarkan semangat belajar warganya hancur perlahan.
Penelitian yang Kehilangan Jiwa dan Tujuan
Di
fakultas yang lahir dari semangat keilmuan, penelitian seharusnya menjadi
denyut nadi kehidupan akademik. Namun, kini denyut itu nyaris tak terdengar.
Penelitian dosen banyak yang sekadar untuk memenuhi angka kredit. Proposal
dibuat terburu-buru, laporan disusun seadanya, hasilnya jarang dibaca, apalagi
dipublikasikan. Mahasiswa pun tak lagi merasakan semangat eksplorasi ilmiah,
sebab penelitian dianggap sekadar tugas akhir, bukan perjalanan penemuan.
Di
ruang-ruang seminar kita sering mendengar jargon “kebaruan penelitian”, tetapi
jarang sekali menemukan keberanian untuk benar-benar baru. FBS seolah hidup di
masa lalu, metodologisnya masih mengulang pola-pola lama dengan tema yang basi
dan analisis yang dangkal.
Padahal
dunia di luar kampus telah berubah cepat. Kecerdasan buatan, literasi digital,
kajian budaya kontemporer, teori wacana kritis, semuanya tumbuh subur di
universitas lain. Sementara FBS masih sibuk dengan laporan penelitian yang
bahkan tak pernah dikonversi menjadi pengetahuan publik.
Penelitian
telah berubah menjadi ritus administratif yang kehilangan makna spiritual.
Dosen meneliti bukan karena ingin tahu, tetapi karena harus. Mahasiswa menulis
bukan karena cinta, tetapi karena tuntutan. Dan ketika penelitian kehilangan
jiwa, maka kampus kehilangan salah satu organnya yang paling vital: rasa ingin
tahu.
Mahasiswa yang Tak Lagi Kritis: Antara Apatisme dan
Penjinakan
Mungkin
inilah luka terbesar: mahasiswa yang dulu menjadi motor perubahan kini terjebak
dalam apatisme yang menenangkan. Yang dulu berani menggugat kini memilih diam.
Yang dulu menulis pamflet kini sibuk mengedit template presentasi. Yang dulu
berorasi kini bersembunyi di balik status story yang ambigu.
Di
FBS, mahasiswa tampak hidup secara fisik, tetapi mati secara intelektual. Diskusi-diskusi
ideologis yang dulu bergema kini hilang. Seminar-seminar mahasiswa yang dulu
penuh debat kini hanya formalitas. Kritik kini dianggap sebagai ancaman, bukan
bentuk cinta. Berpikir bebas dicurigai sebagai pembangkangan. Bertanya dianggap
kurang ajar. Ketika nalar kritis dibungkam dengan kedok sopan santun, maka
universitas telah gagal menjalankan mandat sucinya: membebaskan pikiran.
Mahasiswa
kehilangan rasa ingin bertanya karena mereka telah diajarkan untuk takut salah.
Mereka kehilangan nyali karena kampus terlalu sibuk menjaga citra “tenang dan
kondusif”. Padahal kampus yang tenang tanpa nalar kritis adalah kampus yang
sedang sekarat dalam diam dan berubah menjadi pengkhianat terhadap tujuan
perguruan tinggi itu sendiri.
Ormawa yang Mati Berdiri
Organisasi
mahasiswa (ormawa) dulunya adalah laboratorium sosial-politik, tempat di mana
gagasan diuji, kepemimpinan dibentuk, dan kesadaran tumbuh. Namun, kini banyak
ormawa di FBS hanya menjadi struktur tanpa ruh.
Nama-nama
ormawa masih ada di papan sekretariat, tetapi aktivitasnya tak terasa di
jantung kampus. Kegiatan dilakukan sekadar bertahan agar terlihat ada, bukan
karena ingin. Program kerja disusun bukan karena gagasan, tetapi karena format
laporan mengejar eksistensi belaka.
Ormawa
yang dulu menjadi simbol keberanian intelektual kini terjebak dalam rutinitas
administratif yang kering makna, bahkan tak berjalan. Mereka tidak lagi
menumbuhkan solidaritas atau menggugat sistem, melainkan sibuk menjaga hubungan
baik dengan pihak yang berkuasa agar masih diberi ruang. Lebih menyedihkan
lagi, mereka tak mampu berdiri, tetapi hanya bisa mengemis dana, ruang, dan
eksistensi belaka pada pimpinan kampus.
FBS
kehilangan laboratorium sosialnya. Kampus yang semestinya menjadi arena
tumbuhnya pemimpin masa depan kini melahirkan generasi yang lebih pandai
menulis surat izin ketimbang menyusun visi serta gerak maju peradaban.
Kepemimpinan yang Acuh dan Komunikasi yang Lumpuh
Tidak
ada kapal yang selamat tanpa nakhoda yang berani. Namun, di FBS Unima
kepemimpinan tampak lebih sibuk dengan urusan administratif daripada urusan
arah. Komunikasi publik pimpinan kampus sangat buruk baik di tingkat fakultas
maupun universitas. Tidak ada ruang dialog yang jujur, tidak ada forum terbuka
yang hidup, tidak ada komunikasi dua arah antara mahasiswa, dosen, dan
pimpinan. Ketika masalah muncul yang dilakukan bukan mendengar, tetapi membela
diri. Ketika kritik datang, yang dibangun bukan solusi, tetapi tembok defensif.
Padahal
kampus bukan kerajaan; ia adalah republik kecil yang hidup dari dialog dan
keterbukaan. Pimpinan fakultas dan universitas seharusnya menjadi inspirator
perubahan, bukan sekadar pengatur jadwal atau pemarah, apalagi menjadi elitis.
Namun, kini banyak dari mereka tampak kehilangan keberanian moral untuk mengakui
kegagalan. Mereka lupa bahwa jabatan di kampus bukanlah takhta, melainkan
amanah. Ketika amanah dijalankan dengan kesombongan dan ketertutupan, maka
kampus akan kehilangan jiwanya.
Mereka
sibuk pada hal administratif belaka; tak ada ruang dialogis yang dibangun sama
sekali. Yang ada hanya alibi dan kata pemanis. Mereka lupa kritik yang
diberikan adalah rekomendasi kerja untuk diselesaikan. Mereka pura-pura tak
melihat berbagai masalah yang ada di depan mata, tetapi sibuk mengelak tanpa
penyelesaian dengan berbagai kalimat klise khas para pejabat.
Budaya Ilmiah yang Mati Perlahan
Budaya
ilmiah di FBS kini sekarat. Tak ada gairah membaca, tak ada hasrat menulis, tak
ada tradisi berpikir panjang. Mahasiswa tidak lagi membaca karya dosennya.
Dosen pun jarang menulis untuk dibaca mahasiswanya.
Diskusi
ilmiah jarang terdengar. Seminar ilmiah lebih sering menjadi acara seremonial
ketimbang forum pertarungan gagasan. Jurnal fakultas banyak yang tak terbit
atau terbit tanpa dibaca. Padahal FBS adalah rumah bagi bahasa dan seni, dua
ranah yang mestinya hidup dari kreativitas, refleksi, dan kebebasan berpikir.
Namun, kini bahasa menjadi alat administratif, dan seni kehilangan makna
estetisnya.
Budaya
ilmiah hanya akan hidup jika ada keberanian untuk berpikir berbeda. Namun, di
FBS keberbedaan sering disamakan dengan pembangkangan. Akibatnya, yang tumbuh
hanyalah keseragaman yang membosankan, bukan kebebasan yang mencerdaskan.
Kebebasan Akademik yang Mati: Ketika Pikiran Dibungkam, Ilmu
pun Layu
Tidak
ada universitas tanpa kebebasan akademik. Namun, di FBS kebebasan itu seolah
hanya slogan. Kritik dianggap “tidak sopan”, ide baru dianggap “tidak sesuai
aturan”, dan keberanian berpikir dianggap “tidak loyal”.
Padahal
universitas lahir dari perlawanan terhadap dogma. Ia tumbuh karena keberanian
untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan. Jika kebebasan akademik mati,
maka universitas berubah menjadi kantor pemerintahan yang kaku, bukan rumah
ilmu yang dinamis.
Di
kampus, dosen seharusnya bebas meneliti tanpa takut. Mahasiswa seharusnya bebas
berpendapat tanpa cemas. Namun, kini rasa takut telah menjadi tembok tak kasat
mata yang membatasi langkah-langkah kecil menuju pencerahan. Ketika ketakutan
menjadi budaya, maka ilmu pengetahuan pun akan layu sebelum sempat mekar.
Analisis Akar Masalah: Di Mana Titik Retak Itu Dimulai?
Kemunduran
FBS bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah hasil dari akumulasi kesalahan
struktural, kultural, dan moral yang dibiarkan terlalu lama.
Pertama,
secara struktural, manajemen kampus yang birokratis dan tertutup telah
menciptakan jarak antara pimpinan dan sivitas akademika. Keputusan diambil dari
atas tanpa melibatkan partisipasi bawah. Akibatnya kebijakan sering tidak
menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.
Kedua,
secara kultural, kampus kehilangan etos akademiknya. Dosen lebih sibuk dengan
administrasi dan proyek ketimbang dengan menulis dan membaca. Mahasiswa pun
terbiasa menerima, bukan mencari. Budaya diskusi digantikan oleh budaya upacara
dan keseragaman yang dipertahankan.
Ketiga,
secara moral, ada krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin akademik yang lupa pada
makna dasar kepemimpinan: melayani, bukan dilayani; mendengar, bukan mendikte.
Dari
ketiga akar ini lahirlah gejala yang kita lihat hari ini: fasilitas rusak,
penelitian turun, mahasiswa apatis, ormawa mati, budaya ilmiah merosot,
kebebasan akademik terkubur, serta sedikitnya minat mahasiswa baru untuk masuk
belajar di FBS Unima.
Jalan Pulang: Membangun Ulang FBS sebagai Rumah Intelektual
Namun,
belum terlambat. Kita masih punya waktu untuk menyalakan kembali nyala yang
redup itu.
Pertama,
pemimpin kampus harus berani berbenah dan mendengar. Transparansi dan
komunikasi terbuka harus menjadi prinsip utama. FBS butuh pimpinan yang tidak
hanya pandai berbicara di podium, tetapi mau berjalan di lorong-lorong kampus,
duduk bersama mahasiswa, mendengar langsung suara dosen muda, dan merasakan
denyut kehidupan nyata kampus.
Kedua,
dosen harus kembali menjadi pelita ilmu. Jangan biarkan semangat penelitian dan
menulis mati. Kelas harus kembali hidup sebagai ruang dialog, bukan monolog.
Tugas akademik harus menjadi jalan menuju pemahaman, bukan beban administratif.
Ketiga,
mahasiswa harus berani berpikir dan bersuara lagi. Berpikir kritis bukanlah
dosa, melainkan panggilan akademik. Mahasiswa harus kembali menjadikan ormawa
sebagai ruang perlawanan terhadap ketidaktahuan, bukan tempat mencari status
sosial.
Keempat,
budaya ilmiah harus dibangkitkan. FBS harus menghidupkan kembali seminar,
pelatihan riset, bedah buku, dan forum ilmiah lintas disiplin. Perpustakaan
harus dibangun sebagai ruang interaksi, bukan dibiarkan begitu saja, tetapi
diperbarui.
Kelima,
kebebasan akademik harus dijamin. Tanpa kebebasan berpikir, ilmu akan mandul.
Kampus harus menjadi ruang aman bagi perbedaan pendapat dan keberanian
intelektual.
Penutup: Menyalakan Nyala, Menyembuhkan Luka
FBS
Unima hari ini sedang berdiri di persimpangan: antara terus terpuruk dalam
sunyi atau bangkit dengan keberanian baru. Dan pilihan itu bukan milik pimpinan
semata, tetapi milik kita semua dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat
akademik.
Sebab
fakultas ini pernah menjadi mercusuar intelektual di Sulawesi Utara. Ia bisa
kembali menjadi itu jika kita mau jujur melihat luka dan berani
menyembuhkannya.
Kita
tidak butuh kampus megah untuk menjadi hebat. Kita butuh jiwa yang jujur, akal
yang bebas, dan hati yang peduli. Jika tidak, maka sejarah hanya akan mencatat
bahwa pernah ada sebuah fakultas bernama FBS Unima, tempat ilmu dan seni pernah
bersinar, tetapi mati pelan-pelan karena warganya sendiri lupa menyalakan
cahaya. Dan pada saat itu kita semua akan sadar terlambat bahwa yang membunuh
kampus bukan waktu, bukan dana, bukan fasilitas, melainkan diam yang terlalu
lama dan takut yang terlalu dalam.
Akhir
kata, kukutip sebuah kalimat:
“Tunduk tertindas atau bangkit melawan karena diam adalah sebuah bentuk pengkhianatan.”
[][][]
Komentar
Posting Komentar